Financial Market Update
IDR10 : 7,17% - 7,20% (cl: 7,19%) IDR5: 7,00% - 7,05% (cl: 7,01%) UST10: 5,22% - 5,25% (last: 5,25%)
IDR : 17.875 - 17.905 (cl: 17.883) DXY : 101,92 - 102,14 (last: 102,10) JCI : 5.995,82 - 6.100,58 (cl: 6.093,76)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -3bps to 7,01% FR0108 (10yr) : 0bps to 7,19% FR0106 (15yr) : -3bps to 7,18% FR0107 (20yr) : +3bps to 7,19%
Market Recap:
• Pasar SBN ditutup bervariasi, dengan imbal hasil tenor pendek cenderung turun sementara tenor panjang mengalami kenaikan terbatas. Penguatan di tenor pendek sejalan dengan koreksi harga minyak ke sekitar $103/barel dan penguatan terbatas Rupiah. Sementara itu, tekanan pada tenor panjang mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek fiskal, setelah Kemenkeu melaporkan pelebaran defisit APBN hingga September ke sekitar 1,24% PDB. Kurva imbal hasil SBN pada tenor panjang cenderung flat, dengan yield SUN 10-20 tahun berada di sekitar 7,19%.
• Rupiah ditutup menguat terbatas 0,08% ke level 17.883, dari sebelumnya 17.898 per USD, yang ditopang pelemahan terbatas indeks dolar AS dan koreksi harga minyak setelah pernyataan Presiden Trump meredakan kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran. Penguatan Rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang menguat hari ini. Dari domestik, penguatan Rupiah cenderung tertahan oleh sikap hati-hati pelaku pasar terhadap defisit APBN September yang melebar ke 1,24% PDB.
• IHSG menguat 1,04% ke level 6.093,76, sejalan dengan rebound mayoritas bursa saham regional Asia, didukung meredanya sentimen risk-off setelah harga minyak terkoreksi ke kisaran $103/barel. Saham TLKM (+2,65%) dan BBRI (+2,31%) menjadi penopang utama kenaikan indeks. Secara sektoral, 10 dari 11 sektor bergerak menguat dipimpin oleh barang baku (+1,67%), industri (+1,51%), dan infrastruktur (+1,15%), sementara properti menjadi satu-satunya sektor yang melemah (-0,16%).
Point of Interest:
• Lelang UST tenor 30 tahun semalam (8’Okt) mencatat permintaan yang solid dengan yield 5,618%, lebih rendah dibandingkan indikasi pasar menjelang batas penawaran. Bid-to-cover ratio mencapai 2,54x, sementara investor tidak langsung (indirect bidders, termasuk investor asing/institusional) dilaporkan mengambil sekitar 72,3% dari jumlah yang dilelang. Reuters menilai hasil tersebut menunjukkan permintaan yang kuat terhadap long-duration UST ditengah volatilitas pasar obligasi yang tinggi akhir-akhir ini.
• Harga minyak mentah melemah, dengan Brent turun sekitar 1% ke $103,11/barel. Penurunan terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan terdapat “diskusi produktif” dengan Iran dan menegaskan militer AS tidak akan melancarkan serangan sebelum midterm elections November. Pernyataan ini meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan minyak serta tekanan inflasi global.
• Harga emas dunia menguat sekitar 1,3% ke kisaran $4.188/troy ons, setelah tertekan dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ditopang melemahnya USD dan melandainya imbal hasil UST, yang menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
• Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan kebijakan fiskal pro-growth pemerintah tetap akan mempertimbangkan stabilitas JPY, suku bunga, dan keberlanjutan fiskal. Pernyataan tsb merespon kekhawatiran terhadap rencana pemotongan sementara pajak konsumsi, yang berpotensi mengurangi penerimaan negara hingga ¥4,3 triliun per tahun. Yen masih bergerak di kisaran lemah sekitar ¥158/USD, sementara yield JGB tetap berada pada level historis tinggi meski tenor 10 tahun turun pada perdagangan hari ini mengikuti rally obligasi global.
• Kementerian Keuangan mengumumkan realisasi APBN hingga akhir September 2026 dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Oktober. Pendapatan negara tercatat Rp2.341,5 triliun (74,2% dari target) atau tumbuh 25,5% YoY, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun (69,2% dari pagu) atau tumbuh 19% YoY. Dengan demikian, defisit APBN berada di kisaran Rp319 triliun atau sekitar 1,24% PDB, melebar signifikan dari Rp240,1 triliun (0,93% PDB) per Agustus. Pelebaran ini dinilai mencerminkan percepatan realisasi belanja pemerintah, bukan pelemahan penerimaan negara. Namun pasar tetap akan mencermati ruang fiskal hingga akhir tahun, mengingat outlook defisit 2026 sebelumnya telah dinaikkan menjadi 2,85% PDB.
• Realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi maupun nonenergi hingga September 2026 mencapai Rp376,8 triliun (+54% YoY), atau 84,3% dari pagu APBN. Kenaikan didorong peningkatan volume penyaluran BBM bersubsidi +9,1%, pupuk bersubsidi +15,7%, LPG 3kg +2,2%, jumlah pelanggan listrik bersubsidi +2,1%, dan KUR +7,9%. Dengan harga minyak masih bertahan di atas $100/barel, belanja subsidi dan kompensasi berpotensi menjadi sumber tekanan fiskal hingga akhir tahun.
• Realisasi belanja bantuan sosial hingga September 2026 sebesar Rp115,8 triliun (+2,7% YoY) atau 71,2% dari pagu Rp162,5 triliun. Pemerintah memastikan bantuan pangan tetap disalurkan pada Oktober, November, dan Desember 2026 sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat di akhir tahun.
• Pemerintah merencanakan 12 lelang SBN dan masih membuka opsi global bond untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan Q4-2026. Hingga September, pembiayaan utang mencapai Rp494,3 triliun atau 59,4% target tahunan Rp832,2 triliun, dengan realisasi pembiayaan neto melalui SBN sebesar Rp497,5 triliun atau 62,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp799,5 triliun. Pada Q4-2026, Kemenkeu menyiapkan 6x lelang SUN dan 6x SBSN, dua penerbitan SBN ritel, serta membuka opsi global bond dan pinjaman bilateral/multilateral sekitar $1,8 miliar.
• Danantara membuka peluang membeli saham saat terjadi sell-off dan valuasi dinilai menarik, namun menegaskan keputusan investasi tetap berbasisinvestment return dan due diligence, bukan sebagai “market stabilizer”. Danantara telah menempatkan sekitar $3 miliar pada saham dan obligasi domestik maupun global, serta berencana menambah sekitar $1 miliar hingga akhir tahun.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP