Financial Market Update
IDR10 : 7,17% - 7,18% (cl: 7,18%)
IDR5: 7,02% - 7,07% (cl: 7,04%)
UST10: 5,26% - 5,32% (last: 5,28%)
IDR : 17.900 - 17.920 (cl: 17.900)
DXY : 101,98 - 102,28 (last: 101,99)
JCI : 6.123,65 - 6.212,91 (cl: 6.192,93)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +2bps to 7,04%
FR0108 (10yr) : -1bps to 7,18%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,20%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak mixed pada kisaran terbatas dengan pergerakan yield sebesar 0-2 bps. Tekanan lebih terlihat pada tenor pendek-menengah, sementara tenor panjang cenderung stabil. Yield SBN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,18%, namun masih cukup tinggi di tengah masih tingginya yield UST yang sempat menembus 5,30% pada waktu Asia. Kurva imbal hasil SBN cenderung melandai seiring spread tenor 5 dan 10 tahun menyempit dari 17 bps menjadi 14 bps, terutama akibat kenaikan yield pada tenor 5 tahun yang lebih besar. Sempitnya pergerakan SBN hari ini turut mencerminkan sikap wait-and-see pelaku pasar terhadap kejelasan arah kebijakan suku bunga global ke depan di tengah pelaksanaan lelang SBSN pemerintah hari ini.
• Rupiah ditutup relatif stabil dengan penguatan tipis sebesar 0,04% ke 17.900 dari sebelumnya 17.907. Rupiah mendapat dukungan dari menurunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menjadi 23,8% dari 70,9% sepekan sebelumnya, setelah data ketenagakerjaan AS lebih lemah dari perkiraan, serta koreksi harga minyak dunia pasca laporan bahwa Arab Saudi memangkas harga jual untuk pembeli Asia. Namun, ruang penguatan Rupiah tetap terbatas seiring indeks dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam 18 bulan dan yield UST tetap tinggi.
• IHSG ditutup menguat 1,21% ke level 6.192,93 melanjutkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Seluruh sektor ditutup menguat, dipimpin transportasi (+3,16%), teknologi (+3,09%), dan energi (+2,67%), dengan 511 saham naik, 198 turun, dan 254 stagnan. Penguatan ditopang lesunya data ketenagakerjaan AS yang memperkecil peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, serta koreksi harga minyak dunia seiring pemulihan ekspor dari Timur Tengah.
Point of Interest:
• Peluang kenaikan suku bunga The Fed mengecil. Menurut data CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan Oktober turun tajam ke 23,8% dari sekitar 70,9% pada pekan sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sehingga meredakan kekhawatiran pengetatan moneter lanjutan di AS. Pelaku pasar kini menantikan risalah FOMC yang dijadwalkan terbit pada 7 Oktober untuk memperoleh sinyal lebih lanjut dari pejabat The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.
• Dolar AS dan yield UST bertahan tinggi. Meski peluang kenaikan suku bunga mengecil, indeks dolar AS tetap bertahan di sekitar level tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Yield UST tenor 30 tahun naik 3 bps ke 5,661%, setelah sempat menyentuh 5,703%, tertinggi sejak akhir Mei 2002, dan yield UST 10 tahun sempat naik hingga 5,32% sebelum akhirnya turun ke kisaran 5,26%-5,27% . Tingginya yield AS mempersempit daya tarik relatif aset negara berkembang dan menjaga tekanan pada pasar obligasi global.
• Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio memperingatkan risiko berkurangnya permintaan UST dari China dan Jepang di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS. Dalio menilai faktor geopolitik dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan domestik dapat membatasi appetite dua kreditor utama AS tsb terhadap UST, terutama di saat risiko krisis utang AS yang semakin meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Pandangan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap term premium dan keberlanjutan tingginya yield UST, yang berpotensi membatasi ruang penurunan yield obligasi emerging market, termasuk SBN.
• Harga minyak melanjutkan koreksi seiring meredanya risiko gangguan pasokan Timur Tengah. Pemulihan ekspor minyak kawasan Teluk, peningkatan aliran melalui jalur ekspor Saudi, serta rencana pelepasan cadangan minyak G7 menekan Brent kembali ke bawah $100/barel. Perkembangan tersebut positif bagi Indonesia sebagai net importir minyak karena mengurangi tekanan terhadap inflasi, neraca eksternal, dan subsidi energi.
• Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi Oktober 2026, Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,7%, di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik sebesar 4,5%. Revisi ini didorong oleh dampak kenaikan harga energi yang dinilai lebih ringan dari perkiraan awal. Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Ohnsorge, menilai permintaan domestik adalah kekuatan utama yang membedakan Indonesia dari negara lain di kawasan. Namun, Bank Dunia tetap menyoroti risiko eksternal dengan defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar ke sekitar 1,5% PDB serta perlunya peningkatan investasi swasta seiring normalisasi stimulus fiskal.
• Pelaku pasar menantikan rilis sejumlah data domestik dalam beberapa hari ke depan, termasuk cadangan devisa September, Survei Konsumen, dan Penjualan Eceran. Cadangan devisa terakhir tercatat $146,5 miliar pada Agustus dari $145,3 miliar pada Juli. Data tersebut akan menjadi perhatian untuk menilai ketahanan sektor eksternal dan kekuatan permintaan domestik di tengah volatilitas pasar global. Hal tersebut membuat pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil SBN pada hari ini relatif terbatas.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP