Financial Market Update

IDR10 : 7,13% - 7,18% (cl: 7,13%)
IDR5 : 6,97% - 7,07% (cl: 6,97%)
UST10 : 5,20% - 5,24% (last: 5,22%)

IDR : 17.845 - 17.937 (cl: 17.870)
DXY : 101,17 - 101,47 (last: 101,20)
JCI : 6.071,14 - 6.187,05 (cl: 6.071,14)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -10bps to 6,97%
FR0108 (10yr) : -5bps to 7,13%
FR0106 (15yr) : -4bps to 7,19%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,22%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 1-10 bps. Yield SUN 10 tahun turun 5 bps ke level 7,13% (ytd: +108 bps). Penguatan terutama dipengaruhi oleh melandainya yield UST akibat meredanya ekspektasi kenaikan FFR di Oktober (bergeser menjadi Desember 2026), setelah rilis data ekonomi AS yang kurang mendukung. Penurunan yield UST juga memicu kembalinya sebagian aliran modal ke pasar obligasi domestik seiring meredanya tekanan di pasar obligasi global.

• Rupiah ditutup menguat 0,58% ke 17.870 dari sebelumnya 17.975 dengan kinerja yang cenderung outperform dibandingkan mata uang lainnya di Asia. Penguatan didukung oleh pelemahan USD setelah pernyataan pejabat The Fed yang mengindikasikan tidak perlu terburu-buru dalam menaikkan suku bunga acuan (data dependent), yield UST sedikit terkoreksi dari level tertingginya, serta data ekonomi AS yang dirilis lebih lemah dari ekspektasi. Dari dalam negeri, klarifikasi BI bahwa porsi intervensi spot sekitar 30% merupakan komposisi historis dan bukan batas operasional, dipersepsikan positif oleh pelaku pasar sebagai komitmen stabilisasi Rupiah oleh BI.

• IHSG ditutup melemah 0,83% ke level 6.071,14, melanjutkan penurunan selama lima hari berturut-turut sehingga koreksi sepanjang 2026 mendekati 30%. Tekanan berasal dari sentimen global yang masih defensif serta pelemahan saham GOTO yang kembali menyentuh ARB sebesar 13,5% ke Rp32 selama tiga hari berturut-turut, sejak penghapusan batas minimum harga Rp50 diberlakukan BEI. Pelemahan GOTO turut menekan sektor teknologi yang menjadi sektor terlemah pada perdagangan hari ini.

Point of Interest:

• Presiden The Fed New York, John Williams, mengindikasikan The Fed tidak perlu terburu-buru kembali menaikkan suku bunga setelah kenaikan 25 bps pada September. Williams menilai The Fed dapat menunggu data ekonomi berikutnya sebelum menentukan langkah lanjutan, meskipun satu kenaikan tambahan pada akhir 2026 mungkin diperlukan mengingat inflasi masih berada di atas target. Pernyataan tersebut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober, dengan probabilitas hike turun menjadi sekitar 50% dari hampir 70% sebelumnya, sehingga fokus pasar bergeser pada kemungkinan kenaikan lanjutan di akhir tahun.

• Pergeseran ekspektasi timing kenaikan suku bunga oleh The Fed turut didukung beberapa rilis data AS yang mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi. Consumer Confidence September turun ke 81,9, terendah sekitar 12,5 tahun, sementara job openings turun sekitar 256 ribu menjadi 7,079 juta. Pasar mempersepsikan bahwa data tersebut memberikan alasan tambahan bagi Fed untuk tidak terburu-buru mengetatkan kebijakan, meskipun inflasi masih tinggi.

• Harga minyak Brent melandai ke kisaran $102-$103/barel (tetap bertahan di atas $100/barel) seiring belum tercapainya kemajuan berarti dalam negosiasi AS–Iran. Hal ini menyebabkan masih ketatnya pasar produk energi global, meskipun Arab Saudi dilaporkan kembali menyalurkan minyak melalui jalur Yanbu dan ekspor minyak kawasan Teluk meningkat. Tingginya biaya pengiriman dan terbatasnya pasokan produk olahan diperkirakan menjaga risiko energi tetap tinggi.

• Median survei Bloomberg memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00% pada akhir 2026 dan mempertahankannya hingga Q2-2027, sebelum kembali ke 5,75% pada akhir 2027. Ekspektasi tersebut mencerminkan meningkatnya risiko pengetatan lanjutan di tengah tekanan Rupiah, kenaikan suku bunga global, serta prospek inflasi dan neraca eksternal yang lebih menantang. Survei juga merevisi proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,34% dan defisit transaksi berjalan menjadi 1,55% PDB. Meski demikian, BI menegaskan keputusan suku bunga ke depan tetap bersifat data dependent dan akan mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

• BI meningkatkan pembelian SBN di pasar sekunder pada September sebagai upaya menjaga kecukupan likuiditas domestik. Total pembelian SBN oleh BI sepanjang 2026 mencapai hampir Rp300 triliun yang juga digunakan untuk mengimbangi penyerapan likuiditas Rupiah akibat intervensi valas, sehingga stabilisasi nilai tukar dapat tetap berjalan tanpa mengetatkan likuiditas pasar uang secara berlebihan.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP*