Financial Market Update

IDR10 : 7,06% - 7,11% (cl: 7,11%)
IDR5 : 6,93% - 7,00% (cl: 7,00%)
UST10 : 5,19% - 5,27% (last: 5,24%)

IDR : 17.935 - 17.987 (cl: 17.975)
DXY : 100,98 - 101,31 (last: 101,20)
JCI : 6.140,34 - 6.227,90 (cl: 6.147,86)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +6bps to 7,00%
FR0108 (10yr) : +3bps to 7,11%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,15%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,19%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah pada kisaran kenaikan yield sebesar 0-6 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 7,11% (ytd: +106 bps). Pelemahan SBN sejalan dengan tekanan sentimen negatif global dari kenaikan tajam yield UST, kembali melonjaknya harga minyak akibat penolakan proposal Iran oleh AS, serta tekanan pelemahan Rupiah.

• Rupiah ditutup melemah 0,46% ke 17.975 dari sebelumnya 17.893, tertekan oleh level NDF Rupiah yang mendekati 18.000 seiring sentimen risk-off global yang dipicu penolakan Presiden Trump terhadap proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang kembali membuat harga minyak melonjak. Dari domestik, pernyataan GBI Destry bahwa intervensi spot telah dikurangi secara signifikan turut membuat pelaku pasar menjadi lebih cautious terhadap Indonesia. Secara umum, pergerakan Rupiah relatif sejalan dengan tekan pelemahan yang dialami mata uang peers regional.

• IHSG ditutup melemah 1,51% ke level 6.147,86, sejalan dengan sentimen risk-off global yang turut diperburuk oleh penurunan tajam pada emiten GOTO (-14%) yang terkena ARB seiring mulai berlakunya ketentuan BEI yang menurunkan minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Sebanyak 532 saham tercatat melemah sedangkan hanya 180 saham yang menguat, dimana 9 dari 11 sektor juga terkoreksi melemah.

Point of Interest:

• Tensi geopolitik AS-Iran kembali memburuk. Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Harga minyak Brent mengalami kenaikan dari sekitar $105/barel pada awal perdagangan Asia kembali ke kisaran $107-$108/barel akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi. Artikel Reuters menilai eskalasi tersebut kembali meningkatkan risiko inflasi global.

• Pada waktu perdagangan pasar Asia, yield UST 10 tahun kembali naik dari level 5,20% melonjak hingga hampir menyentuh 5,24%. Reuters memberitakan bahwa pasar kini memperkirakan sekitar 73% probabilitas kenaikan FFR sebesar 25bps pada bulan Oktober. DXY juga bertahan di level tertingginya selama dua bulan terakhir di sekitar 101.

• BI menegaskan stabilisasi Rupiah tidak hanya akan mengandalkan kenaikan suku bunga. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan asesmen BI bahwa kenaikan BI Rate sebesar 25 bps berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 poin persentase dengan asumsi kebijakan lain tidak berubah. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dengan dampak yang lebih terarah, BI meningkatkan penggunaan instrumen intervensi DNDF dan NDF serta insentif lindung nilai. Porsi intervensi melalui pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi valas BI, sejalan dengan strategi mengurangi kebutuhan penggunaan cadev secara langsung.

• Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia bulan September 2026 akan meningkat menjadi 3,3% YoY (Agustus: 3,19%), terutama dipengaruhi kenaikan harga energi global yang mulai meningkatkan tekanan biaya domestik. Namun, transmisi kenaikan harga minyak terhadap inflasi diperkirakan masih terbatas seiring kebijakan pemerintah mempertahankan subsidi dan harga BBM domestik, sehingga dampak langsung terhadap kelompok administered prices relatif terkendali. Meski demikian, tren kenaikan inflasi tetap perlu dicermati karena berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter BI apabila tekanan harga energi berlangsung lebih persisten.

• BEI mulai menerapkan penyesuaian mekanisme watchlist seiring penghapusan batas minimum harga saham Rp50 Penghapusan dilakukan antara lain pada kriteria berbasis harga saham, likuiditas, dan jumlah saham yg dapat diperdagangkan. Adapun kriteria terkait kondisi keuangan dan hukum emiten tetap dipertahankan. Seluruh kebijakan tsb merupakan bagian dari upaya BEI memperbaiki likuiditas dan proses pembentukan harga di pasar menjelang evaluasi indeks MSCI pada November 2026.

• Data ekonomi AS akhir pekan lalu menunjukkan sinyal yang beragam. Sentimen konsumen University of Michigan turun ke 48,1 pada September (Agustus: 51,7), terendah dalam empat bulan, disertai kenaikan ekspektasi inflasi satu tahun menjadi 4,6% dan lima tahun menjadi 3,4%. Di sisi lain, durable goods order Agustus relatif stagnan dan lebih baik dari ekspektasi pasar, sementara pesanan di luar transportasi serta barang modal non-pertahanan tetap tumbuh. Kombinasi ini menunjukkan konsumsi rumah tangga mulai lebih berhati-hati, namun aktivitas investasi bisnis masih cukup resilien, sehingga prospek kebijakan The Fed masih dipengaruhi oleh risiko inflasi dan perlambatan permintaan.

• Pemerintah dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) memenuhi klaim pokok Obligasi Waskita Karya sebesar Rp722 miliar setelah gagal melunasi kewajiban yang jatuh tempo 24 September 2026. Pembayaran tersebut menjadi klaim pertama atas surat berharga BUMN dalam skema penjaminan PEN dan memperkuat kredibilitas government guarantee, meski kondisi kredit Waskita tetap tertekan setelah PEFINDO menurunkan peringkat korporasinya menjadi idCCC. Dari sisi fiskal, pembayaran ini merupakan realisasi kewajiban kontinjensi yang sebelumnya telah diidentifikasi pemerintah.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP