Financial Market Update

IDR10 : 7,08% - 7,09% (cl: 7,08%)
IDR5 : 6,89% - 6,91% (cl: 6,91%)
UST10 : 4,94% - 4,97% (last: 4,96%)

IDR : 17.777 - 17.840 (cl: 17.838)
DXY : 100,18 - 100,41 (last: 100,40)
JCI : 6.381,57 - 6.451,33 (cl: 6.384,73)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -6bps to 6,91%
FR0108 (10yr) : -2bps to 7,08%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,15%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,19%

Market Recap:

Harga SBN seri benchmark mayoritas menguat terutama pada tenor pendek-menengah dengan yield turun sekitar 2-6 bps, sementara tenor panjang relatif stabil dengan pergerakan yield terbatas sebesar 0-1 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 7,08% (ytd: +104 bps), antara lain ditopang pernyataan BI bahwa pembelian SBN untuk stabilisasi pasar masih dilakukan. Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan pasar SBN didominasi oleh sikap wait-and-see pelaku pasar menjelang RDG BI pada 22-23 September dengan ekspektasi bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan pada level 5,75%.

Rupiah ditutup melemah 0,54% ke 17.838 dari sebelumnya 17.742, di tengah penguatan yang dialami sebagian besar mata uang Asia lainnya terhadap dolar. Kinerja Rupiah cenderung underperform di kawasan yang antara lain tertahan oleh kehati-hatian investor menjelang keputusan suku bunga BI pada Rabu, 23 September 2026, selain juga dipicu kekhawatiran dari tingginya harga minyak dan arus keluar dari aset domestik.

IHSG ditutup melemah 0,88% ke level 6.384,73, sejalan dengan sentimen negatif global terutama berasal dari prospek suku bunga global yang lebih tinggi, pelemahan Rupiah, dan arus keluar asing dari pasar modal Indonesia seiring berlakunya komposisi baru hasil rebalancing indeks FTSE mulai tanggal 21 September 2026. Pelemahan IHSG terutama dikontribusikan oleh saham Bayan Resources (BYAN) yang turun 5,1%, seiring berlanjutnya ketidakpastian seputar rencana penjualan 62% saham perusahaan dan revisi outlook Moody's menjadi “Negatif”.

Point of Interest:

Harga minyak melanjutkan penurunan seiring meningkatnya harapan diplomasi AS–Iran dan pulihnya sebagian ekspor minyak Timur Tengah. Harga minyak Brent turun ke kisaran $101–$102/barel, sementara pengiriman minyak melalui Hormuz tetap berlangsung meski aktivitas pelayaran masih jauh di bawah kondisi normal. Koreksi minyak memberikan dukungan bagi sebagian besar mata uang Asia, namun belum cukup menopang Rupiah yang tetap melemah akibat penguatan USD, kenaikan yield UST, serta kehati-hatian menjelang keputusan BI.

BI tegaskan intervensi Rupiah konsisten dan berkelanjutan. Pernyataan disampaikan oleh Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Sekuritas, Erwin Hutapea, bahwa BI akan terus melakukan intervensi pasar valas secara konsisten dan berkelanjutan melalui transaksi NDF offshore, spot onshore, dan DNDF, serta melalui pembelian SBN di pasar sekunder. BI juga akan berkomunikasi secara intensif dengan perusahaan dan pelaku pasar untuk mendorong masuknya dana asing dan mengoptimalkan transaksi mata uang lokal.

Konsensus pasar memperkirakan BI-Rate dipertahankan pada 5,75%. Namun, perhatian investor akan tertuju pada sikap BI terhadap pelemahan Rupiah dan tekanan suku bunga global, khususnya setelah The Fed dan BoJ menaikkan suku bunga pekan lalu. Kenaikan yield UST 10 tahun ke sekitar 5% dan masih tingginya harga minyak dunia diperkirakan memperkecil peluang BI untuk bersikap dovish.

OJK menerbitkan aturan baru terkait demutualisasi BEI. Danantara, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan dapat menjadi pemegang saham BEI dalam ketentuan baru yang diatur POJK Nomor 13 Tahun 2026. Kepemilikan hingga sebesar 5% saham BEI secara langsung maupun tidak langsung dapat dilakukan tanpa persetujuan OJK, sedangkan kepemilikan di atas 5% memerlukan persetujuan OJK. Aturan tersebut juga membuka kepemilikan kepada pihak non-anggota bursa, dengan tetap mensyaratkan independensi bursa dan pemisahan fungsi bisnis dari fungsi pengaturan serta pengawasan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghapus batas harga minimum saham Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai 28 September 2026, disertai penyesuaian batas auto rejection untuk saham berharga Rp1–Rp200. Pada fase pertama hingga 31 Desember 2026, batas auto rejection ditetapkan ±35%, kemudian menjadi ±25% mulai 1 Januari 2027. Kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi struktural pasar modal untuk meningkatkan efisiensi pembentukan harga dan transparansi perdagangan. Hal ini sekaligus sebagai bentuk respons terhadap kekhawatiran transparansi MSCI dan FTSE menjelang review MSCI pada November 2026.

Menkeu Suahasil Nazara melantik 14 pejabat baru di Kemenkeu, sebagai langkah konsolidasi kepemimpinan pertama sejak menjabat pada 14 September 2026. Pelantikan tersebut dipandang sebagai upaya memperkuat koordinasi internal dan membangun tim kerja baru, sekaligus menjadi sinyal awal untuk memulihkan kepercayaan pasar setelah pergantian Menkeu.

Analisis Bloomberg menyoroti momentum penguatan Rupiah yang mulai tertahan oleh tekanan eksternal dan domestik. Penguatan Rupiah sekitar 1,5% sejak awal Agustus berisiko kehilangan momentum di tengah defisit transaksi berjalan Q2-2026 yang melebar ke rekor $12,5, tingginya harga minyak yang meningkatkan risiko beban subsidi, serta menyempitnya diferensial suku bunga terhadap AS.

China mengonfirmasi kunjungan Presiden Xi Jinping ke AS pada 23–25 September. Pertemuan Trump–Xi diperkirakan berfokus pada kelanjutan trade truce serta isu perdagangan, AI, dan rantai pasok. Menjelang pertemuan tersebut, PBOC memberikan ruang bagi penguatan CNY yang turut membantu menopang sentimen mata uang Asia. Namun demikian, pasar masih membatasi ekspektasi adanya terobosan besar dari hasil summit/pertemuan tersebut.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP