Financial Market Update
IDR10 : 7,13% - 7,16% (cl: 7,16%) IDR5 : 6,96% - 7,01% (cl: 7,01%) UST10 : 4,98% - 5,04% (last: 5,01%)
IDR : 17.645 - 17.700 (cl: 17.691) DXY : 99,48 - 99,69 (last: 99,63) JCI : 6.461,01 - 6.549,60 (cl: 6.461,15)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +4bps to 7,01% FR0108 (10yr) : +2bps to 7,16% FR0106 (15yr) : +4bps to 7,22% FR0107 (20yr) : +3bps to 7,21%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 2 bps ke level 7,16% (ytd: +111 bps). Pasar SBN melemah terdampak sentimen risk-off global dari pelemahan UST 10 tahun dengan yield terpantau menembus level psikologis 5,00%. Kenaikan yield SBN dipicu oleh berlanjutnya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC 17 September seiring tingginya tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia selama konflik AS-Iran, di tengah menyempitnya spread SBN vs UST.
• Rupiah ditutup melemah 0,24% ke 17.691 dari sebelumnya 17.648, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia. Tekanan terutama berasal dari kenaikan DXY (indeks dollar) yang bertahan di level tinggi, ekspektasi kenaikan FFR sebesar 25 bps, serta kekhawatiran inflasi global akibat tingginya harga minyak. Rupiah sempat menguat pada awal perdagangan, merespon positif penunjukan Suahasil sbg Menkeu yang dinilai menjaga kesinambungan kebijakan dan kredibilitas fiskal. Namun demikian, kuatnya tekanan risk-off global membalik pergerakan Rupiah hingga ditutup melemah.
• IHSG ditutup melemah 1,13% ke level 6.461,15 meskipun sempat bergerak positif pada awal perdagangan. Pelemahan terutama disebabkan oleh sentimen risk-off global yang menekan kinerja saham big caps, seperti BYAN, BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI.
• CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar +25 bps pada FOMC September 2026 mencapai 92%. Ke depan, pasar juga mengekspektasikan kenaikan suku bunga setidaknya 50 bps hingga 2027, yang akan membuat suku bunga AS naik ke kisaran 4,25–4,5%, dibandingkan level saat ini di kisaran 3,5–3,75%.
• Yield UST tenor 10 tahun naik menembus 5% dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2007, seiring tekanan jual yang meluas di pasar obligasi global. Kenaikan harga energi, meningkatnya risiko inflasi, serta kekhawatiran terhadap prospek fiskal turut mendorong kenaikan yield. Pasar juga mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini, yang jika terealisasi akan menjadi kenaikan pertama sejak 2023. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai kenaikan yield UST terutama mencerminkan tekanan dari faktor global.
• Pasca-perombakan kabinet yang diumumkan oleh Presiden Prabowo, mantan Menkeu Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya telah mengantisipasi potensi pergantian posisi tersebut. Pada Selasa (15/9), Purbaya menyatakan sudah memprediksi peluang sebesar 50-50 akan lengser dari jabatannya akibat konsekuensi dari beberapa langkah kebijakan yang ia ambil sebelumnya. Purbaya menegaskan bahwa arah kebijakan strategisnya tetap sejalan dengan Presiden Prabowo dan menepis isu konflik internal di tubuh Kementerian Keuangan, meski ia mengonfirmasi adanya dinamika berupa silang pendapat dengan pejabat pemerintahan lain.
• Artikel Bloomberg menilai pergantian pucuk kepemimpinan ekonomi untuk kedua kalinya dalam sekitar tujuh minggu, setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo pada 27 Juli, tetap membuat investor mencermati kredibilitas dan konsistensi agenda ekonomi pemerintah Indonesia.
• Danantara berpotensi memiliki 40,12% saham BEI pasca demutualisasi. Namun demikian, tim komunikasi Danantara menyatakan bahwa belum terdapat keputusan final mengenai hal tsb seiring proses kajian internal dan pelaksanaan uji tuntas masih berlangsung. Selain itu, Danantara juga masih menunggu terbitnya peraturan OJK terkait pengaturan demutualisasi BEI.
• Pemerintah menerbitkan SUN sebesar Rp34,0 triliun melalui lelang kemarin, melampaui target indikatif Rp32,0 triliun. Total penawaran masuk tercatat Rp61,0 triliun, turun dari Rp66,0 triliun pada lelang sebelumnya, mencerminkan moderasi minat investor di tengah ketidakpastian geopolitik dan sikap wait-and-see menjelang FOMC, dengan pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25bps. FR0110 menjadi seri dengan permintaan tertinggi, mencatat penawaran Rp23,6 triliun, menunjukkan preferensi investor yang tetap kuat pada tenor menengah. Dengan hasil tersebut, total penerbitan SBN secara kumulatif sepanjang 2026 mencapai Rp1.175,0 triliun.
• S&P menyoroti meningkatnya risiko kredit dan profitabilitas bank BUMN. Pertumbuhan kredit BRI, Bank Mandiri, dan BNI mencapai sekitar 26% YoY per Juni 2026, lebih dari dua kali laju industri, terutama didorong pembiayaan BUMN dan program pemerintah. Di tengah ekspansi kredit berimbal hasil lebih rendah dan biaya pendanaan yang tetap tinggi, S&P memperkirakan NIM bank BUMN turun sekitar 10–20 bps dalam 12–18 bulan ke depan. Tekanan tersebut antara lain tercermin pada NIM BRI yang turun 18 bps YoY menjadi 6,4% pada semester I-2026.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP