Financial Market Update
IDR10 : 7,08% - 7,10% (cl: 7,09%) IDR5 : 6,88% - 6,92% (cl: 6,90%) UST10 : 4,82% - 4,96% (last: 4,96%)
IDR : 17.509 - 17.540 (cl: 17.539) DXY : 98,71 - 99,20 (last: 99,06) JCI : 6.585,56 - 6.712,50 (cl: 6.589,34)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +2bps to 6,90% FR0108 (10yr) : +1bps to 7,09% FR0106 (15yr) : +3bps to 7,14% FR0107 (20yr) : 0ps to 7,13%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah terbatas dengan kisaran pergerakan yield sebesar 0-3 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,09% (ytd: +105 bps). Pergerakan SBN terutama dipengaruhi oleh sentimen negatif pelemahan Rupiah akibat kenaikan harga minyak ke atas $100/barel yang memperburuk prospek inflasi dan fiskal Indonesia.
• Rupiah ditutup melemah 0,15% ke 17.539 dari sebelumnya 17.513. Pelemahan Rupiah dipicu oleh sentimen negatif akibat lonjakan harga minyak Brent yang bertahan di atas $100/barel, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, neraca eksternal, dan kebutuhan pembiayaan Indonesia. Tekanan juga diperkuat oleh sikap wait-and-see menjelang rilis PPI AS Kamis malam, yang menahan minat terhadap aset berisiko. Meski demikian, pelemahan Rupiah relatif terbatas karena ditopang pengelolaan valas BI yang aktif dan membaiknya persepsi terhadap arah kebijakan moneter di bawah Gubernur Destry Damayanti.
• IHSG ditutup melemah 1,33% ke level 6.589,34 terutama dipicu lonjakan harga minyak Brent melampaui $100/barel yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, beban fiskal, dan neraca eksternal Indonesia. Sentimen risk-off tersebut mendorong aksi jual yang cukup luas, tercermin dari 516 saham melemah berbanding hanya 150 saham menguat, dengan BBRI menjadi kontributor terbesar pelemahan indeks. Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah eskalasi retorika Iran memperbesar risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, sehingga tekanan terhadap saham domestik meluas hingga penutupan.
• Harga minyak Brent bertahan di atas $100/barel seiring eskalasi konflik AS-Iran. Iran mengancam akan meningkatkan respons apabila serangan AS berlanjut, setelah eskalasi aksi saling serang terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz. Gangguan pelayaran melalui jalur energi utama tersebut serta tingginya biaya angkut tanker menjaga premi risiko minyak tetap tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi salah satu tekanan eksternal utama melalui risiko kenaikan inflasi dan beban impor energi, sehingga menekan kinerja Rupiah, IHSG, dan pasar SBN pada perdagangan Kamis.
• Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana operasi buyback UST hingga sebesar $6 miliar pada tenor 10-20 tahun yang dinilai less aggressive oleh pelaku pasar. Meski jumlah tsb di atas komitmen minimum $4 miliar yang diumumkan pada Agustus lalu, sebagian pelaku pasar telah memperkirakan langkah yang lebih agresif dengan Reuters menyebutkan ekspektasi mencapai $10 miliar dibandingkan pengumuman $6 miliar yang dinilai underwhelming. Hal ini berdampak pada melonjaknya yield UST 10 tahun yang turut menekan kinerja SBN pada Kamis.
• Analisis Bloomberg menyoroti kembalinya minat investor global terhadap aset Indonesia, tercermin dari pembelian obligasi asing selama empat bulan berturut-turut dan penguatan Rupiah dari level terendah di bulan Juni. Sementara itu, dari pasar saham Indonesia juga mulai terlihat peluang membukukan arus masuk kuartalan pertama sepanjang 2026. Pemulihan sentimen tsb dinilai didukung oleh kenaikan BI-Rate, kepastian kepemimpinan BI, arah fiskal yang lebih pragmatis, dan kebijakan SRBI yang lebih dovish. Meski demikian, arus masuk masih berlangsung selektif di tengah tekanan yield global, harga minyak yang tinggi, dan ekspektasi suku bunga The Fed.
• Daniel Moss dari Bloomberg Opinion menilai pemulihan pasar Indonesia saat ini masih bersifat rapuh dan sangat bergantung pada disiplin kebijakan pemerintah. Stabilitas Rupiah, penguatan obligasi, dan kembalinya arus modal asing menunjukkan bahwa kepercayaan investor mulai pulih, namun Moss menekankan bahwa risiko terbesar justru berasal dari potensi guncangan kebijakan domestik yang bersifat self-inflicted. Karena itu, keberlanjutan penguatan aset domestik dinilai akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga konsistensi kebijakan, menghindari kejutan regulasi baru, dan mempertahankan momentum perbaikan sentimen menjelang evaluasi MSCI pada November.
• OJK berada di tahap akhir penyunan kerangka regulasi demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Rancangan POJK tengah menjalani proses harmonisasi di Kementerian Hukum yang akan dilanjutkan ke tahap persetujuan formal, dan pengundangan, dengan target penerbitan tetap pada September 2026. Kerangka tsb akan menjadi landasan hukum bagi tahapan lanjutan demutualisasi BEI, termasuk kemungkinan kepemilikan oleh pihak di luar anggota bursa saat ini. Danantara sebelumnya telah mengonfirmasi minat untuk mengambil kepemilikan saham BEI melalui Danantara Investment Management (DIM), sebagaimana disampaikan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik pada 12 Agustus.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP