Financial Market Update

POI - Point of Interest:

*    Tingkat inflasi AS meningkat dari 8,6% YoY pada Mei 2022 menjadi 9,1% YoY pada Juni 2022 melampaui ekspektasi konsensus sebesar 8,8% YoY dan mencapai level tertingginya sejak November 1981. Harga energi meningkat 41,6% YoY, level tertingginya sejak April 1980 dan harga pangan meningkat 10,4% YoY, level tertingginya sejak Februari 1981.

*    Terdapat ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunganya sebesar 100 bp pada pertemuan 26-27 Juli 2022. Ini terjadi setelah laporan inflasi AS yang mencapai level tertingginya lebih dari 40 tahun terakhir dan US fed funds futures menunjukkan probabilitas sebesar 28% untuk kenaikan sebesar 100 bp, naik dari probabilitas sebesar 0,2% sebelum rilis data inflasi AS. Namun, pasar masih ekspektasikan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 bp, dengan probabilitas sebesar 72%.

*    Yield UST tenor 10-tahun melemah kembali ke level 2,9% karena investor lanjut menghitung risiko resesi menyusul rilis inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Selisih antara yield UST tenor 2-tahun dan 10-tahun melebar sekitar 20 bps tercatat sebagai inversi terbesar sejak Maret 2010 sebagai pertanda kuat resesi.

*    Defisit anggaran pemerintah AS menyempit signifikan menjadi USD89 miliar pada Juni 2022 dari USD174 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar USD76,5 miliar. Penerimaan tumbuh sebesar 3% YoY menjadi USD 461 miliar, sementara pengeluaran turun 12% YoY menjadi USD550 miliar.

*    IHSG ditutup menguat 0,74% atau 49bp ke level 6.690,09. IHSG menghentikan penurunan beruntun 3 hari, dibuka terkoreksi sebelum dengan cepat kembali menguat. Transaksi pasar tetap rendah seiring dengan tingginya tingkat kewaspadaan investor terhadap pasar saham setelah rilis data inflasi AS untuk bulan sebelumnya (Juni 2022). Pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap kebijakan The Fed yang akan datang karena inflasi AS pada Juni 2022 tercatat di atas ekspektasi sebesar 9,1%, tertinggi sejak 1981.

*    Rupiah ditutup melemah 5 bps atau 0,03% di level Rp14.993/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp14.988/USD. Harga minyak sawit turun ke level terendah dalam setahun, dan USD yang lebih kuat didorong oleh wagers of a more hawkish The Fed yang membebani risk assets.


Demikian disampaikan, terima kasih.


Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP