Financial Market Update
POI - Point of Interest:
Yield
US Treasury tenor 10-tahun naik ke level 3,54%, seiring investor yang cenderung
bersikap berhati-hati menjelang keputusan suku bunga dari Fed pada pertengahan
pekan ini. Beberapa rilis data ekonomi terbaru AS mengindikasikan perlambatan
ekonomi pada akhir tahun 2022, dengan sebagian besar analis memperkirakan
resesi ringan akan terjadi pada 2H23.
Tingkat
inflasi yang tinggi berlanjut memaksa bank sentral global untuk menaikkan suku
bunganya, meskipun sinyal risiko resesi telah meningkat. Fed diperkirakan akan
memutuskan kenaikan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25bp sementara Bank of England
(BoE) dan European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga sebesar 50bp
pada pertengahan pekan ini.
Indikator
sentimen ekonomi di Eropa naik 2,8 poin dari bulan sebelumnya ke level 99,9
pada Januari 2023, merupakan level tertingginya sejak Juni 2022 dan jauh di
atas ekspektasi konsensus pada level 97,0. Sentimen ekonomi tersebut telah
membaik untuk bulan ketiga secara berturut-turut di tengah meredanya tekanan
inflasi.
BI
terus mengoptimalkan manajemen forex untuk menjaga stabilitas nilai tukar
Rupiah, termasuk Operation Twist melalui penjualan dan pembelian Surat Berharga
Negara (SBN) di pasar sekunder untuk meningkatkan daya tarik yield SBN bagi
investor asing.
BI
menyatakan bahwa inflasi pada Januari 2023 akan kembali melandai seiring
terdapat beberapa komponen yang berpotensi deflasi, yaitu tarif angkutan udara
dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan potensi terjaganya tingkat inflasi
tersebut, memberikan ruang yang cukup bagi BI untuk mempertahankan suku bunga
acuannya.
IHSG
ditutup melemah 0,48% atau 33bps ke level 6.839,34. IHSG turun untuk hari ke-2
untuk mengakhiri 0,5% lebih rendah mengikuti pelemahan bursa regional.
Transaksi pasar meningkat pada akhir bulan karena dipengaruhi oleh aktivitas
perdagangan pada nama-nama yang terkait dengan LQ45, (ACES IJ) -1,6%, (AKRA IJ)
-2,6%, (ESSA IJ) Flat, (SCMA IJ) - 1,7%, (SIDO IJ) -1,3%, (SRTG IJ) -0,8%,
(BFIN IJ) +5%, (ERAA IJ) +1,5%, (HMSP IJ) +3,2%, (MIKA IJ) +1% , (MNCN IJ)
+0,7%, (WIKA IJ) +0,7%. Nama perbankan memimpin penurunan meski mencatatkan
hasil laba yang kuat, harga saham BMRI ditutup netral meski melaporkan laba
bersih FY22 sebesar Rp41,17 triliun (+47% YoY).
Rupiah
ditutup melemah 0,13% atau 20bps ke level Rp14.990/USD, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp14.970/USD.
Demikian disampaikan, terima kasih.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP